Senin, 13 Februari 2012

ELF Melindungi Super Junior, Begitu Juga Sebaliknya!





“Ketika ELF Melindungi Super Junior, Super Junior juga harus Melindungi ELF!“

Aku terus membaca posting dari beberapa ELF, menyatakan betapa senangnya mereka bahwa setelah 6 tahun, Super Junior akhirnya belajar bagaimana membela diri sendiri.

Sejujurnya, Aku juga bangga dan senang pada awalnya, tapi melihat kembali apa yang terjadi, aku menyadari satu hal – Super Junior tidak pernah benar-benar membela dirinya sendiri.

“Bahkan ketika aku lelah, aku harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja…” – Leeteuk

“Hanya ketika tidak ada satu pun yang memperhatikan, aku diam-diam menangis…” – Sungmin

“Pada akhirnya, ini masih menyakitkan…” – Heechul

“Kami membicarakan hal itu dan kami mungkin tertawa tentang hal itu, tetapi, ketika aku pulang aku menangis.” – Eunhyuk

“Ini begitu sulit…” – Kyuhyun

“Aku berusaha dengan baik mempertahankannya… ini terlalu sulit… sangat.. sebenarnya…” – Leeteuk

Melakukan sesuatu yang salah untuk Super Junior, tidak peduli seberapa besar itu, mereka akan terlihat buruk, posting satu atau dua hal tentang hal itu kemudian mengangkat bahu  mereka, biarkan berlalu dan berpura-pura seakan tidak pernah terjadi.

KEMARIN, FANS YANG PALING MENYEDIHKAN ADALAH ELF (SBS GAYO DAEJUN)

Tetapi melakukan hal yang salah, bahkan sangat kecil, untuk ELF – dan semua kekalahan dari neraka yang salah!

Dan kamu tahu bahwa hal-hal yang sangat-sangat buruk ketika Siwon bahkan mulai mengutukinya.

Bahkan tanpa berpikir tentang reputasi mereka, bahkan tanpa berpikir tentang apa yang orang lain mungkin pikir atau mengatakan tentang mereka, bahkan tanpa berpikir tentang konsekuensi dari tindakan mereka – Super Junior membela diri. Tapi mereka tidak membela diri untuk diri sendiri.

Super Junior membela diri untuk ELF.


Beberapa orang mengatakan itu adalah reaksi yang berlebih, kasar dan belum dewasa. Tapi siapa mereka yang berhak berbicara? Mereka hanya membaca postingan dan berkomentar di bawahnya. Sebenarnya, mereka tidak pernah benar-benar tahu apa-apa.

“Ini tidak benar… Mereka harus sudah memasang pemberitahuan terlebih dahulu, bukan? Aku minta maaf atas nama mereka~” - Leeteuk

“Maaf ELF~” - Donghae

Dan mengapa harus Super Junior yang meminta maaf atas sesuatu yang bukan kesalahannya?

Sejak dimulai, itu akan selalu menjadi Super Junior dan ELF, ELF dan Super Junior. Dan meskipun terkadang Super Junior dan ELF pergi bersama dengan DBSK dan Cassies atau SHINee dan Shawols, atau fandom lainnya, tetapi pada akhirnya, masih hanya kami – Super Junior dan ELF.

KAMI adalah semua yang hanya kita punya.

Dapatkah kalian menyalahkan kami karena kami ingin saling melindungi? Dapatkah kalian menyalahkan kami karena bereaksi dan melawan ketika orang lain menyakiti orang yang kami cintai dan harta kami yang paling berharga?

Aku bertaruh kau bahkan tidak mengerti mengapa kami adalah bagian dari Sapphire Blue Ocean.

Apakah karena Super Junior adalah grup yang paling tampan? Disamping bias, ada idola lain yang jauh lebih tampan dari mereka. Berbakat? Grup lain juga dapat melakukan hal-hal yang Super Junior bisa lakukan, bahkan mungkin lebih, mungkin lebih baik. Apakah mereka adalah yang terbaik? Baiklah, sekarang kita semua tahu bahwa itu tidaklah benar.

JADI, MENGAPA?

“Ketika tidak ada yang mengakui kami, ketika tak seorang pun ada yang membantu kami. Untuk fanclub terbaik yang membuat kami merasakan ‘keagungan’. ELF kami, Aku dengan tulus berterima kasih lagi.” - Leeteuk

“Aku mencintaimu, ELF!” - Donghae

“ELF, yang berdiri bersama kami meskipun kami masih ada kekurangan.” – Sungmin

“Kami tidak bisa menerima penghargaan ini jika bukan untuk ELF.” – Leeteuk

“Terima kasih 40 ribu lebih ELF! Mari bertemu lagi besok.” - Yesung

“Terima kasih karena ELF!” - Kyuhyun

“Kami bukan apa-apa tanpa ELF.”

INILAH JAWABANNYA!

Untuk di semua tahun bahwa aku telah menjadi bagian dari fandom ini, tidak pernah mereka membuatku merasa bahwa aku hanya seorang fans belaka. Apa yang mereka selalu buat untukku merasa bahwa ‘aku adalah seorang ELF‘, – the EVER LASTING FRIEND dari Super Junior

Dimana kalian akan menemukan idola yang memberikan pada fansnya 600 cangkir kopi hanya setelah menonton penampilan mereka di malam yang begitu dingin?

Dimana kalian akan menemukan idola yang menari dan bermain ‘peek-a-boo’ dengan fans mereka di bandara?

Dimana kalian akan menemukan idola yang mengambil foto fans mereka sendiri dan diposting di (Cyworld/Twitter) mereka dengan keterangan ‘Terima kasih’ dan ‘Aku mencintaimu’?

Dimana kalian akan menemukan idola yang menyusun, membuat dan mendedikasikan lagu terutama untuk fans mereka?

Dimana kalian pernah menemukan idola yang berdoa dan menangis untuk fans mereka yang telah tiada?

Dimana kalian pernah menemukan idola yang memberikan cokelat kepada fans mereka saat konser?

Dimana kalian pernah menemukan idola yang memberikan fans mereka es krim saat musim panas?

Dimana kaliah pernah menemukan idola yang berterima kasih kepada fans mereka berulang kali seolah-olah tidak akan ada hari esok?

Dimana kalian pernah menemukan idola yang melambaikan tangan dan membuat bentuk hati di jendela kamar hotel mereka hanya untuk menunjukkan betapa mereka menghargai para fans yang menunggu mereka di luar?

Dimana kalian pernah menemukan idola yang meminta para fansnya  untuk masuk ke dalam hotel karena udara luar sangatlah dingin?

Dimana kalian pernah menemukan idola yang meminta fansnya untuk menjaga kesehatan mereka?

Dimana kalian pernah menemukan idola yang selalu melakukan dan melakukan yang terbaik meskipun mereka benar-benar sakit hanya karena fans mereka pantas mendapatkan hanya yang terbaik?

Dimana kalian pernah menemukan idola yang berjabat tangan dengan erat dan memeluk fans mereka setelah tampil?

Dimana kalian pernah menemukan idola yang membungkuk 90 derajat selama hampir 10 detik hanya untuk menunjukkan betapa bersyukurnya mereka?


Mengapa aku adalah seorang ELF?

Karena semuanya berharga. Karena Super Junior adalah hal yang berharga.

Karena menjadi ELF adalah seperti suatu kehormatan.

PROUD TO BE ELF!


Banyak yang merasa ironis sebelumnya, banyak yang begitu takut pada ELF, karena mereka tampak begitu semangat dan protektif. Tetapi sekarang, setelah kalian menjadi ELF yang benar-benar nyata, kalian akan bangga menjadi seorang ELF!








Via: randomblackbubble
Source photo: weheartit.com
Posted again by : Y-Dami http://echarway.blogspot.com

Sabtu, 11 Februari 2012

One of My Dream (Scary Side of My Self)


Aku ingin tinggal di menara.

Aneh kah?
Pembukaan postingan kali ini?

Tapi, sudahlah.. Aku memang gadis yang aneh..

Pagi ini, sesuatu membuatku ingin pergi dari kehidupanku sekarang, mati dengan tenang, hidup kembali dan bereinkarnasi. Menjadi sosok baru. Dengan rambut sehitam jelaga yang panjangnya melebihi lututku. Dengan baju seorang upik abu. Menyulam di pinggi jendela merana. Bekerja sebagai penjahit.

Aku begitu ingin menaraku dibangun setinggi mungkin. Membuatku dapat menatap seluruh indahnya negeri.

Aku ingin hidup sendiri di menara itu. Tidak ada suara bentakan. Tidak ada suara cacian dan makian yang mengatakan setiap yang kulakukan adalah salah. Yang tidak menganggapku sebagai manusia.

Aku hanya ingin dapat terus menerus menyulam sembari bersenandung kecil dengan suara menghibur hati. Sejauh mata memandang yang ada hanya atap-atap rumah dan pucuk-pucuk pohon.

Tak ada suara lain selain suaraku, hembusan angin, dan kicauan burung yang samar-samar.

Aku ingin ketika senja datang, aku menghentikan kegiatan menyulamku. Kujauhkan sulaman indah itu dari pangkuanku dan meletakkannya di atas meja kecil berbahan kayu yang telah lapuk. Aku akan berdiri. Mendekati jendela merana. Terus mendekat hingga aku dapat menjulurkan sebagian besar tubuhku. Aku akan menopangkan dagu beberapa menit, menikmati hembusan nafas sang Khalik yang diturunkannya melalui angin lembutnya.

Setelah itu, aku akan menunjukkan sisi lain diriku. Aku akan mengangkat gaun upik abu-ku hingga setinggi lutut, berdiri, duduk di jendela dengan keadaan berbahaya dan mengkhawatirkan, dan melompat lincah bagaikan seekor rusa ke bagian tepi puncak menara.

Aku akan biarkan diriku menikmati keheningan senja. Menatap indahnya matahari yang terasa dapat kujangkau. Menatap keindahan matahari terbenam entah untuk yang keberapa kalinya.. Membiarkan air mata hangat menyeruak dari pelupuk mataku..
Dan ketika kegelapan datang, menelan setengah bagian dari bumi, aku akan bangkit berdiri. Berjinjit dengan tumitku yang kecil. Terus berjinjit hingga cukup dekat untuk menyentuh bintang di langit dan membawanya pulang ke dalam kamar di menara untuk kujadikan teman...

Kawan,
Tidakkah kalian pikir itu hebat?
Hal-hal sepele seperti mimpiku tadi?
Tidakkah kalian pikir itu menakjubkan?
Tidakkah kalian pikir akan menyenangkan menjalani hidup dengan tenang seperti itu?
Aku tahu, setengah bagian dari diriku memberontak. Menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pemikiran gilaku ini..
Tapi, sobat, inilah khayalan.. Imajinasi.. Indah, Manis, Tidak logis, Gila, dan menimbulkan perang batin..
Tahukah kalian jika aku sedang berkhayal seperti ini, terkadang aku merasa ada sebagian diriku yang lain yang tiba-tiba muncul. Menampakkan dirinya dan mengatakan bahwa jiwa aslinya telah tertutup oleh jiwa palsu yang selama ini menyiksa dirinya sendiri dengan kenyataan pahit dunia tanpa khayalan..
Kawan,
Terkadang aku berpikir, bukan akulah psikolognya.. Tapi, akulah pasiennya. Terkadang aku berpikir aku gila. Terkadang aku berpikir psikologisku terlalu mengerikan untuk anak seusiaku. Yang lebih buruk lagi, terkadang aku rasa aku mengidap DID! Kepribadian ganda!
Kawan,
Itu terdengar begitu buruk dan mengerikan, tapi juga nikmat. Aku menikmati pertarungan batinku, sobat..
Sampai di sini, janganlah takut jika berpikir aku ini gila. Tak jarang, aku juga berpikir aku ini setengah tak waras.. Hahaha...!!!


Author : Y-Dami

Jumat, 10 Februari 2012

My first Hanchul!


Author note : Annyeong! Hi! Aku gak akan bicara banyak karena aku gak bisa bicara terlalu banyak. Menurutku sih. Tapi gak kata oranng2 sekitarku..
Yeah, I just want to say.. This is my first Bromance and the couple is Hanchul! ^^ Kyaa! Hanchul!! >o<
Ok, Mengenai cerita, kalian akan tahu sendiri kalo kalian baca ^^ (ya iyalah.. -_-)  Ya, aku cuma pgn tau gmn feel para readers waktu baca FF ini ^^ Semoga, ff ini bisa mengobati kerinduan kalian sama Our Gege oppa, ELF :") Aku rindu momen Hanchul dimana aku bisa selalu liat mata berbinar keduanya. Dimana aku bisa liat wajah berseri-seri keduanya. Wajah tulus Chullie oppa. Wajah bahagia Gege oppa. Apa kalian rindu itu semua? Ya. Aku ngerti perasaan kalian. Aku ELF. Dan, di dasar hatiku masih tersisa rasa sakit dari para antis Gege oppa. Mengatakan menunggunya hanya hal bodoh dan percuma. Hhh~ Jadi haru-haruan nih bahasanya.. =,= 
Tpi, bwt catatan, FF ini mengambil tema yang berkesan klasik dan setting berbeda jauh. Ini AU. Dan part 1 ini menceritakan mereka yang masih kecil dan... disini belum ditonjolkan intinya. Jadi, jangan bingung, ok? So, silahkan read this dan silahkan buat settingan sendiri dalam kepala kalian! Happy reading all! ^^




Innocent Love

~~~

~FAILED ‘A’ PLAN

Namaku…
Baik. Aku tahu ini buruk.
Mungkin kalian bingung. Tak mengerti akan pembukaan cerita kali ini.
Begini, kebanyakan orang mengawali ceritanya dengan sebuah perkenalan. Tapi, aku bukanlah orang kebanyakan. Aku tidak mempunyai identitas. Kedengarannya aneh bukan?
Tapi, memang beginilah aku.

Aku terlahir bukan dari perut seorang ibu. Begitulah pikirku. Benihku bersumber dari rintik hujan. Tumbuh di dalam kardus dan di depan pintu. Saat pertama aku membuka mata, yang kurasakan hanyalah cuaca dingin. Tak ada selimut. Tak ada senyuman. Tak ada nyanyian. Hanya suara hujan. Bahkan tak ada makanan. Aku juga selalu telanjang. Hanya terbungkus selembar kain. Itu sangat dingin dan membuatku menangis. Tetapi, tangisanku itulah awal dari segalanya. Karena tangisan itulah aku ditemukan. Aku jadi dapat melihat banyak hal yang berwarna-warni. Aku dapat mendengar banyak hal. Khususnya suara wanita yang nyaring. Aku bisa merasakan nikmatnya makanan meski bukan dalam jumlah banyak. Aku juga ber-baju. Istilah yang aneh. Tapi, aku memang tidak pernah mempelajari kalimat. Tulisan. Dan huruf. Meski sebenarnya aku ingin. Keadaan yang tidak memungkinkan menyebabkan kebutaanku pada huruf. Kata-kata yang sering kudengar juga kata-kata umpatan dan bernada kasar. Semua orang di dekatku selalu berbicara dengan keras. Membentak dan berteriak.
”Hei!! Kau! Kenapa kau diam saja di situ? Kau! Kesini! Kita ini sedang berunding, bodoh!”
Nah, kau dengar itu? Ada seseorang lagi yang berteriak.
”Kau! Yang duduk di dekat meja!! Kau!!”
Tampaknya, kepadakulah orang itu berteriak. Aku menengok kecil ke sumber suara.
”Ya! Kau! Yang sedang duduk di dekat meja! Kemari!” Ia menggerak-gerakkan telunjuknya ke arahku. Secara otomatis kedua mata sipitku mengikuti gerakan jarinya. Ke kiri. Ke kanan. Maju. Mundur. Semua orang pasti mengenggap ini konyol. Kudengar suara cekikikan mereka. Mereka menertawakanku. Orang dengan jari aneh itu juga pasti mempermainkanku. Ia tahu aku mengikuti gerakan jarinya. Ia membuat jarinya berputar-putar cepat. Tapi aku tidak menyerah. Aku terus mengikuti gerakannya. Sekarang ia buat jarinya ke-atas dan ke-bawah. Aku tetap tidak menyerah. Kurasa orang-orang berhenti menertawakanku. Sekarang tidak ada suara. Hening. Kurasa mereka mengagumi kemampuan mata sipitku. Aku tersenyum bangga dalam hati. Mataku masih berkonsentrasi pada jarinya. Tapi tiba-tiba jari itu berhenti. Aku tersentak.
”Haah! Dasar bodoh!”
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Sedikit sakit karena bola mataku terus bergerak cepat.
”Siapa yang mau melakukan hal bodoh ini?” Kulihat pipinya memerah. Ia meletakkan kedua tangan di pinggangnya yang kurus.
”Kau! Pesuruh! Aku hanya menyuruhmu mendekat! Kemari cepat!” Ia melambai-lambaikan tangannya.
Aku mengangguk pelan. Aku beranjak – sedikit melompat – dari kursi berkaki panjang ke bawah lantai yang dingin. Aku berjalan canggung dan mendekat ke arahnya. Mataku mengerjap.
”Kemari! Bentuk lingkaran!” komandonya.
Semuanya menurut. Begitupun aku. Tapi, ini ternyata hal tidak mudah. Yah, tidak semudah yang kubayangkan. Tubuhku sedikit gemuk tetapi aku sangat pendek. Tanganku yang pendek menggapai-gapai ke pundak Siwon yang tinggi besar.
Tampaknya lelaki itu menyadari hal bodoh yang kulakukan. Karena tegurannya kembali bergema di telingaku. ”Hei! Pesuruh! Kenapa lagi?”
Aku tidak memedulikannya. Aku terus berusaha keras menggantungkan tanganku di bahu Siwon. Tampaknya Siwon sadar hal itu. Ia menengok padaku dan tersenyum kecil. Memperlihatkan lesung di kedua pipinya. Ia meraih tanganku yang kecil dan pendek dengan tangannya yang besar. Ia gantungkan tanganku ke pundaknya. Itu membuat kaki kanan dan perutku tertarik karena selisih ketinggian yang drastis. Aku mengaduh kesakitan.
Hal ini membuat orang itu membentakku kesal. ”Haaah!! Pesuruh kecil! Turunkan tanganmu darinya! Itu membuatmu terlihat seperti bebek di pasar HanGumae! Memalukan!”
Sontak, semua orang di dekatku menyemburkan tawa mereka. Aku menarik tanganku dari pundaknya dengan malu.
”Tidak perlu merangkulkan tangan begitu!” komandonya. Semua orang lantas melepaskan rangkulan tangan mereka dari bahu orang di samping kanan-kiri mereka.
”Membungkuk semua!” komandonya lagi sembari membungkukkan badannya yang panjang dan kurus.
Semua orang mematuhinya. Aku menengok sebentar dan ikut menunduk. Beberapa orang memperhatikanku karena aku lamban.
”Siapa suruh menengok seperti itu? Membungkuk kubilang!” bentaknya.
Semua orang kembali membungkukkan badannya. Mereka benar-benar penurut. Saat ini orang itu benar-benar seperti seorang jenderal dengan kami sebagai tentara-tentara kecilnya.
”Aku, Kim Heechul..”
Oh.. jadi itu namanya.
”Disini akan memimpin sebuah aksi terhebat dan terbesar. Terpenting dalam hidup kalian.”
Kalimatnya berantakan.
”Aksi yang akan merubah hidup kalian! Percayalah padaku.”
Semua orang mengangguk-angguk. Aku mengikuti mereka.
”Kudengar, semua aksi akan berjalan lancar jika dijalankan dengan penuh kekompakan dan rasa kebersamaan. Tapi, semua itu tidak akan tumbuh dalam hati kita jika tidak dimulai dengan sebuah kesadaran. Dan dasar dari semua itu, kalian harus menyetujui aksi kali ini...”
Ia berhenti sebentar untuk menambah efek. Bola matanya bergerak-gerak, memandangi kami satu persatu. Aku menunduk kecil.
”Aksi apa itu, Heechul-ssi?”
Suasana tegang itu terusik dengan suara kecil seorang gadis. Beberapa menoleh ke arah gadis itu dnegan pandangan menyalahkan.
”Argh! Diam! Siapa suruh mengganggu? Aku belum menerima pertanyaan, Sunkyu!!”
Gadis itu, tanpa rasa bersalah hanya memperlihatkan sederetan gigi putihnya.
”Huu...” Terdengar seruan pelan disana-sini.
”Ahhh!! Diam! Diam! Diam! Kalian semua ini! Mau kulanjutkan tidak hah?!”
Sontak, beberapa dari kami mengunci mulut rapat-rapat.
Ia menarik nafas panjang. Semuanya menatapnya dengan tegang.
”Kita semua..” ucapnya pelan.
”Akan pergi dari panti asuhan...,” katanya akhirnya.
Sesaat, suasana hening. Tidak ada respon. Aku menelan ludah. Kabur? Dari panti asuhan? Tidak!
Panti asuhan memang kejam. Memperlakukanku bagai budak. Tapi, bagaimana aku akan makan jika bukan dari tempat ini? Kami semua membenci tempat ini dan kami sadar akan hal itu. Fisik dan tenaga kami terforsir habis karena kegiatan-kegiatan yang tak sesuai dengan umur kami. Tapi, kami harus makan. Meskipun kami akan terbebas dari setumpuk pekerjaan, cambukan, dan jam tidur yang sangat minim, kami membutuhkan makanan. Baju. Dan tempat berteduh. Aku tak bisa membayangkan hidup sebagai anak jalanan. Tidak. Aku tidak mungkin. Kuharap, semua orang berpikiran sama denganku.
Dan, nampaknya memang begitu. Setidaknya seorang lelaki bertubuh kurus kecil yang kini mengeluarkan keringat dingin karena panik.
”Tidak! Tidak! Tidak, Heechul-hyung! Aku tidak bisa!” kata seorang lelaki kecil dengan panik. ”Aku tidak bisa!” Ia terus berkata dengan panik sembari membubarkan diri dari barisan perlahan.
Semua orang berhenti menunduk. Mereka menatap lelaki itu, sementara beberapa dari mereka mengangguk dengan takut-takut. Semuanya menatap Heechul dengan pandangan takut. Meragukan. Aku hanya diam. Dan menggeleng pelan.
”Heechul-hyung! Aku tahu! Tempat ini memang neraka!!” lelaki itu mengucapkannya dengan ekspresi tragis. ”Dan aku memang lelah dengan semua perlakuan ini!! Kalian tahu?? Diantara kita semua, akulah yang paling sering mendapat cambukan! Akulah yang paling sering disiksa karena keterbatasan fisikku!”
Ya. Lelaki itu memang. Salah satu kakinya lebih panjang dari kaki lainnya. Wajar jika ia histeris.
”Aku tahu! Kita semua... memang menganggap tempat ini neraka!! Aku memang lelah dengan semua diskriminasi ini!!!”
Beberapa orang berjalan ke arahnya. Merengkuh bahu lelaki itu dengan gugup. ”Tenanglah Hyukjae-ah... Tenanglah..”
Tak ada seorangpun kecuali aku yang menyadari bahwa Heechul menatap kejadian ini dengan pandangan mengerikan. Ia marah. Dan itu wajar. Ia maju dengan pasti. Merengkuh bahu lelaki itu dengan marah, gelisah. ”Kalau begitu, mengapa kau tak ingin pergi dari sini?!” Matanya menatap nyalang. Bulu kudukku berdiri. Nada ancaman dalam suaranya terdengar begitu mengerikan untuk seorang lelaki berumur 10 tahun.
Lelaki itu menghentakkan bahunya dengan marah. ”Kau tahu aku selalu ingin pergi!? Sejak umur 2 tahun aku dibawa ke tempat ini oleh kedua orang tuaku. Dan kau ingat apa kata mereka padaku?! Waktu itu kau disana! Kau melihat semuanya, bukan?! Mereka bilang mereka hanya menitipkanku beberapa hari pada bibi yang baik! Dan waktu itu aku begitu memercayai mereka... Mereka bilang mereka akan kembali dalam beberapa hari! Mereka bilang aku dapat bermain denganmu dan yang lainnya! Mereka bilang yang kubutuhkan hanyalah teman! Dan waktu itu aku begitu memercayai mereka... Hingga hari itu... aku mulai sadar! Mereka menjualku!! Mereka menjualku sebagai budak yang harus bekerja untuk nenek sihir itu dan kau tahu apa? Kau tahu apa alasan mereka? Mereka menjualku karena tak tahan akan keadaanku ini! Bahkan ibu yang begitu kusayangi! Mereka tak ingin anak sepertiku yang cacat begini! Tak tahukah kau, betapa aku begitu membenci tempat ini?!”
Heechul menatapnya jauh lebih marah dari sebelumnya. Ia mencengkram kerah anak itu. Beberapa anak perempuan menjerit dan menutup mata mereka dengan tangan.
”Hyung...” kata Siwon tegang.
Ia mengacuhkannya. ”Kalau kau membenci tempat ini, mengapa kau tidak pergi saja, bodoh?!! Pergilah dari sini! Bersamaku dan yang lainnya! Dengan rencanaku!! Kau hanya harus menyetujuiku!!”
”Tidak! Tidak akan! Orangtuaku... aku memang membenci mereka! Nyonya Geum! Aku juga membencinya! Mereka bertiga... Tahukah kau selama satu tahun aku selalu hidup dengan kepercayaan penuh pada orang dewasa?! Tapi apa? Mereka, yang kupercayai sepenuh hatiku menjualku! Tahukah kau bahwa bersamaan dengan itu runtuh kepercayaanku? Aku tidak akan pernah mempercayai orang dewasa lagi! Tidak akan pernah seumur hidupku!
”Sementara itu kau mengajak kita semua kabur? Pergi dari sini?! Itu sama saja kau membebaskan kami dari kandang singa dan memasukkan kami ke rawa penuh buaya kelaparan!!”
Perumpamaannya begitu mengerikan, hingga tanpa sadar aku mencengkram lengan Donghae di sebelahku. Kutatap wajahnya. Donghae. Aku mengenalnya sebagai anak lelaki paling menarik di panti asuhan ini. Ia selalu baik pada semua orang. Ia selalu tersenyum. Tapi, sekarang. Lelaki itu menatap pemandangan di depannya tanpa senyuman. Wajahnya menampakkan urat-urat tegang. Itu membuatku sedikit ketakutan.
Suara Hyukjae yang parau kembali terdengar.
”Di luar sana Heechul-hyung!! Di luar sana... Ribuan orang dewasa jahat tersebar!! Mereka akan menatapku sebagai anak jalanan dengan kaki pincang yang menjijikkan!! Mereka akan memandangku penuh rasa hina... Dan aku hanya akan meringkuk ketakutan di pinggir jalan. Menunggu waktu terus berjalan sementara perlahan, aku akan mati dengan rasa kelaparan dan ketakutan menyakitkan!!”
Lelaki itu mengatur nafasnya. Ia akhiri pidato singkatnya dengan sebuah gerakan mantap. Ia mencampakkan tangan Heechul yang keras dari kerahnya dan dengan sigap melompat ke tempat ia tidur. Mungkin lebih tepat jika kusebut dengan, karpet berkutu. Ia ringkukkan badan kurusnya. Menghadap ke arah dinding yang dingin, memunggungi kami dengan aura penuh kebencian.
Itu tadi sangat mengerikan. Beberapa anak perempuan jatuh terduduk dengan lemas. Seohyun bahkan nampak seperti kucing sekarat saat Heechul menepuk bahunya untuk menyuruhnya segera tidur. Aku tahu ia putus asa. Lelaki kecil itu tahu, bahwa penolakan Hyukjae tadi merupakan representasi dari suara hati kami semua. Kuperhatikan kedua bola matanya. Tetap tenang. Ya. Aku memang belum pernah melihat orang ini menangis. Ia begitu kuat hingga aku ragu, apakah saat pertama kali lahir ia menangis. Kurasa, Tuhan bahkan tak memberi waktunya untuk menangis dan meringkuk. Ganjil rasanya membayangkan seorang Heechul menjadi bayi. Ia begitu kuat dan dewasa. Dan berani. Dan bersemangat. Dan ambisius. Dan juga pantang menyerah. Sesaat, aku merasa begitu kecil hanya dengan menatapnya menggandeng Kyuhyun yang nampak sedikit ketakutan. meski lelaki yang biasanya usil itu tak mau menunjukkan rasa takutnya.
Sesaat, ruangan sepi. Begitu kontras bila dibandingkan dengan keadaan beberapa puluh detik sebelum ini. Kupandangi Hyukjae. Punggung kurusnya yang penuh bekas cambukan terlihat naik turun secara teratur. Ia telah lelap. Mungkin ia terlalu lelah setelah seharian ini terus bekerja dan mendapat banyak cambukan, dan malam ini. Ia kembali diingatkan pada masa lalunya. Tapi, aku tak bisa sepenuhnya menyalahkan Heechul-hyung.
Kusenderkan punggungku ke dinding. Aku rasa aku juga sedikit lelah. Kejadian sesaat tadi cukup mengguncang mentalku. Donghae dan Siwon berjalan pelan ke arah karpet. Berusaha mengambil jarak sejauh mungkin dari Hyukjae. Sungmin berjalan dengan gugup ke arah Kyuhyun dan menggenggam kedua tangannya. Hingga akhirnya ia tertidur di dekat Kyuhyun. Kibum yang memang selalu tenang memandang Heechul beberapa saat hingga akhirnya ia putuskan untuk berbaring di antara Donghae dan Yoona. Hyoyeon telah tidur sejak tadi. Kudengar, gadis itu sangat membenci Hyukjae. Wajar jika ia menganggap ini hal biasa, mengacuhkannya, dan dapat tidur dengan cepat. Wajah Sunkyu yang biasanya ceria terlihat sedikit pucat ketika ia membalikkan badannya untuk menepuk nyamuk nakal yang dengan iseng hinggap di kakinya.
Kini tinggal aku dan Heechul-hyung. Sesaat, ruangan teerasa begitu senyap. Aku tak mengerti apa yang harus kulakukan. Heechul-hyung terus berdiri terdiam dengan posisi memunggungiku. Rencananya telah gagal. Gagal begitu saja. Tanpa sempat dicoba. Hanya karena sebuah bantahan. Aku tahu ia putus asa. Tapi, ia tak menunjukkannya. Aku mulai bergerak. Berlutut di dekat Sunkyu. Biasanya aku memang canggung dengan para gadis, tapi ini ialah jarak terjauh dari Hyukjae. Aku begitu takut dengannya. Kami sendiri sebenarnya cukup akrab. Tetapi, ketika ia mulai membicarakan orang dewasa, aku seakan tak mengenalnya. Kepercayaannya yang tulus pada orang dewasa telah terpatahkan begitu saja.
Masa lalu kami semua sebenarnya memang buruk. Kami memang hanya sekelompok anak biasa. Dengan masa lalu suram yang kini masuk ke masa sekarang yang tak kalah suram. Terjebak keadaan dan terpaksa menjadi begitu keras. Aku bergidik memikirkannya. Aku sendiri tak tahu dengan masa laluku. Hanya saja, orang-orang bilang aku ini orang asing.
”Hhh~”
Terdengar hembusan nafas. Kugerakkan kepalaku ke arah Heechul-hyung. Ia berjalan pelan ke arah kursi yang tadi kududuki. Aku terpaku melihatnya mendongak menatap bulan. Cahaya bulan begitu terang di kegelapan kamar kami. Tampaknya sedang purnama. Sesaat, aku berfirasat tak wajar. Aku takut ia akan berubah menjadi manusia serigala. Aku memeluk lututku semakin erat. Aku memutuskan untuk terus begini dan tidak tidur sampai pukul 3 pagi besok, untuk kembali memeras keringat. Hingga sebuah suara lembut yang sebelumnya belum pernah kudengar, mengurungkan niatku.
”Tidurlah Pesuruh Kecil.. Kau harus tidur untuk mempersiapkan diri dengan rencana B-ku. Rencana A-ku mungkin gagal. Tapi, aku tak akan menyerah. Tidurlah..”
Ia berkata begitu tanpa menatapku. Tapi aku cukup tersentak. Ia begitu lembut. Membuatku ragu untuk membantah. Entah kenapa, di saat ini, aku merasa sebagai sosok diriku yang lain. Begitu juga dengan Heechul-hyung. Aku rasa, ia telah berganti jiwa. Aku memutuskan berdiri untuk memeluknya. Tapi, ketika aku mendekat, menatap otot matanya yang berkerut serius, aku megurungkan niatku. Kulangkahkan kaki ke dekat Sunkyu. Hingga akhirnya terlelap dengan keadaan lilin di kamar yang masih menyala.

Hingga tengah malam, entah pukul berapa, aku terjaga tanpa sengaja. Mataku mencoba membiasakan diri dengan kapasitas cahaya yang minim. Kuperhatikan kursi yang tadi Heechul-hyung duduki. Sudah tak ada orang di atasnya. Tapi, kurasa ’rencana B’-nya telah ia susun. Melihat kursi yang telah didorong masuk hingga ke dalam meja. Ia pasti telah amat yakin pada rencana-nya hingga ia sempatkan merapikan kursi. Kugerakkan badanku pelan hingga aku melihat sebuah kejadian yang membuat mataku terasa panas untuk sesaat. Disana. Dipojok sana. Dipojok dinding dingin yang catnya terkelupas, sebuah sosok yang kupikir telah tertidur kini tengah memeluk sesosok pria kecil dengan punggung yang naik turun tak beraturan. Sosok itu berkali-kali menghapus keringat dingin yang tak berhenti keluar dari kening sosok kurus dalam dekapannya, dengan kaos berdebunya.
Sosok itu Heechul-hyung... Sedang menenangkan Hyukjae yang tengah mengigau tanpa suara..

Senin, 06 Februari 2012

Sepercik Kesedihan


Air mata mengalir,
Gigi bergemeletuk

Amarah dan duka terasa bagai semangkuk sup panas nan lezat,
Siap untuk dilahap habis nan tercampur begitu indah dengan luka

Kesuraman mendera bukan buatan,
Bagai oksigen yang mau tak mau harus terhirup masuk melalui kerongkongan dan paru-paru, merasuk dalam kalbu kekosongan
Atau mati jika tak menghirupnya
Benar-benar bak buah simalakama

Kekosongan,
Kesuraman,
Luka,
Tusukan-tusukan

Hati terasa sakit namun tak kunjung mau pergi,
Tangisan tak berguna sungutan pun sia-sia,
Rasa sakit kian mendera,
Merasuk kalbu nan jiwa

Lagu bertempo lambat dengan nada tinggi,
Buku tebal bersampul seorang perempuan penggesek biola dnegan daun-daun berguguran,
Hujan rintik di balik jendela bertralis,
Kapasitas cahaya minim di ruangan redup ini,
Bersatu membuat kesedihan terserap makin dalam
Membuat raga, dengan tanpa sadar makin meresapi dan menikmati sepercik rasa itu

Menikmati setiap desah nafasnya..

Sungguh...
Terkadang kesedihan terasa begitu menyakitkan sekaligus nikmat..

Kamis, 02 Februari 2012

K-POPERS DI MATA PSIKOLOG!!


Yeah, All K-popers in the world!!! (teriak pake TOA)

Aku nemu postingan ini di salah satu page di fb. Dan… aku surprise bgt bacanya! Mungkin bbrapa dari kalian udah ada yg pernah baca? Tpi, ttp aja aku mau share. Karena, karena, karena, postingan ini mewakili aku bgt! rasanya kyk representing dari kita2 yg K-Popers, right?
Yg sering diremehkan sm dunia? Yg dipandang sebelah mata. Yg cuma dianggap anak muda yg suka CUMA dari wajah idola kita. Dunia gak kenal siapa kita sebenernya. Dan, begitu aku baca postingan ini, aku sebagai K-Popers khususnya ELF, aku ngerasa begiiiiitu diharai! Ayo, mungkin kalian butuh baca ini? That’s why i share it.

Happy reading chingudeul!! ^^

Seorang psikolog pernah mengatakan: Jangan pernah meremehkan anak-anak yang mencintai/mengagumi selebriti Korea. karna hati mereka lebih murni, hangat daripada orang lain. Mereka tulus mencintai artis tersebut. mereka berteman dengan orang yang memiliki ketertarikan yang sama walaupun berbeda kota, umur, negara. Mereka tidak mendiskriminasi orang berdasarkan ras. Mereka berusaha mengatasi perbedaan bahasa dan budaya. Mereka adalah orang yang tidak mudah menyerah, gigih dan tidak menghianati orang yang mereka sukai.


Menurut investigasi, ketika mencintai/memuja selebriti korea mereka mengalami hal yang tak pernah dialami sebelumnya. Mereka memahami makna dari bersyukur. Hati mereka menjadi lebih sensitive dari pada sebelumnya. Mereka menjadi lebih peduli terhadap orang lain. mereka adalah orang-orang yang mudah tersentuh. Cara berpikir merekapun berbeda dengan orang lain. mereka adalah tipe orang-orang yang tidak mudah terpengaruh cinta, mereka juga termasuk orang-orang yang tidak pernah berpikir melakukan hal-hal buruk. Karna criteria mereka saat mencari pasangan sangat tinggi. Menurut mereka kpribadian seseorang jauh lebih penting dari pada penampilan seseorang.

Mereka juga termasuk orang-orang yang memiliki memori kuat dan baik. Mereka dengan mudahnya menyerap lyric lagu korea yang tidak mereka mengerti. Mereka adalah orang-orang ceria yang memiliki kemampuan koordinasi sangat tinggi. Memiliki tekad yang kuat untuk membeli sesuatu yang berhubungan dengan selebriti yang mereka sukai.



Aku menikmati setiap katanya chinguddeul.. Setiap kata dan kalimat di atas bak tambahan oksigen untukku.. #plak! kata2 aneh..

Tapi, chingu, aku bener2 ngerasa dihargai waktu baca ini. Cherish us bgt.. Big hug deh buat psikolognya ^^

Cr:Laras Myeolchi Kinanthi
Page : fb : We Are ELFindo Love you “SUPER JUNIOR”
Author : YumiHa (http://hatakeyumi.blog.com)
Source image : google.com
Edit and Posted : Y-Dami

Total Tayangan Halaman