Sabtu, 17 November 2012

No tittle(?)

Entah, tiba-tiba nulis ini dan aku sendiri gak ngerti kenapa? Bisakah jadi fanfiction? Setelah aku baca lagi ini bener2 semacam trailer..

~
Hujan turun semakin deras. Gadis itu masih menatap ke satu titik dengan khawatir. Bola matanya yang cantik dan hitam legam mengikuti gerakan titik itu. Banyak pikiran berkecamuk di kepalanya. Ia menggigit bibir dengan resah. Mengerjap-ngerjapkan matanya yang indah dan memutuskan untuk kembali berkonsentrasi pada kopinya. Ia menyeruputnya lagi. Menghirup aromanya dan merasakan manis sekaligus pahitnya. Ia mencoba menghilangkan kecemasan yang tiba-tiba melanda tanpa alasan yang jelas. Ia bahkan menuliskan beberapa kalimat secara asal di laptopnya yang kini telah menampilkan sebuah layar kosong tanpa tulisan.
Tapi kini tidak hanya hujan, tiba-tiba petir datang menyambar. Sementara di luar, orang-orang mulai berlindung dan menghentikan aktivitas mereka.
“Klang~ Klang~” Pintu di kafe itu terbuka. Berdiri seorang tua dengan pakaian tebal yang telah basah kuyup karena hujan, memegang sebuah kotak peralatan memancing. Yang segera saja menarik perhatian beberapa pasang mata untuk mengamatinya sejenak. Perhatian gadis itu pun akhirnya teralihkan sejenak. Ia menengok ke arah orangtua itu.
“Di luar hujan deras. Deras sekali.”
Tiba-tiba kakek itu mulai berbicara. Herannya, ia sama sekali tak seperti bergumam. Lebih seperti berbicara kepada orang tak terlihat. Beberapa orang menengok heran. ‘Gila…,’ batin mereka.
Lelaki tua itu masih belum menyerah. Entahlah… Mungkin benar-benar bermaksud mengabarkan fakta yang sepertinya tak usah dibicarakan lagi, atau sekedar ingin menarik perhatian. “Benar-benar deras. Dengan petir menyambar-nyambar. Hhh.. Benar-benar dingin disana.” Suaranya yang serak dan berat membuat gadis itu tak bisa tidak mendengarnya.  Sementara matanya kembali menatap laptop di hadapannya, telinganya menangkap semua hal yang dibicarakan orangtua itu. Ia merasa, jelas-jelas merasa, orangtua itu berbicara kepada dirinya. Ia tahu, mungkin hanya perasaan atau imajinasinya karena terlalu sibuk dengan tugas di kantornya belakangan ini, tetapi yang jelas ia merasakan sesuatu ketika orangtua itu berbicara. Ia merasa terpanggil. Ia merasa ketahuan. Akan suatu hal yang selama ini selalu ia simpan untuk dirinya sendiri.
 Masih berusaha mengerjakan laporan-laporan dan portofolio akuntan, suara itu semakin nyaring dan nyata memanggilnya. Tiba-tiba gadis itu mendesah keras. Ia menatap ke arah orangtua itu dengan cepat. Sudah tidak ada. Matanya terbeliak heran. Sontak, kepalanya cepat berputar mencari keberadaan bapak tua tadi. Tapi kini orang itu telah duduk. Masih sembari berbicara memang. Tapi ia berbicara tentang pesanan dengan suara normal kepada seorang pelayan. Gadis itu mendesah lega. ‘Ia hanya orangtua biasa. Bukan peramal atau semacamnya,’ pikirnya tenang.
Ia kembali ke dalam laporannya. Tetapi hujan semakin deras. Suara hujan semakin meneror pikirannya. Pikirannya bertambah kalut. Ia tak bisa berkonsentrasi. Secara asal ia membuka sebuah lembar kosong di monitor dan mengetikkan kalimat-kalimat yang tak beraturan. Mencoba menyibukkan diri untuk menghilangkan kecemasan. Ia mengerutkan dahinya. Rasanya seperti ingin berteriak untuk menghilangkan kecemasan itu.
Kini, bola matanya berganti-ganti menatap ke arah monitor yang penuh dengan deretan kalimat tak jelas, ke arah sebuah titik yang masih bergerak dengan kecepatan yang sama di luar, diantara hujan yang semakin lebat, ke arah kopi moccanya, ke arah pintu kafe…
“Brakk!” Gadis itu berdiri secara tiba-tiba, hentakannya nyaris membuat kursi yang ia duduki terjungkal. Beberapa orang menatapnya heran. Gadis itu tak peduli, dalam hitungan detik ia segera menyambar sebuah payung yang kebetulan ada pada jangkauan pandangnya, entah milik siapa itu, ia segera berlari keluar. Mendorong pintu kafe dan berlari ke luar, membuka payung dengan sigap. Hujan deras dan angin membuat kulitnya bergidik. Sebagian rambutnya yang terurai berkibar-kibar ditiup angin. Gadis itu berlari. Menyeberangi jalan dan menggeliat di antara barisan kendaraan yang tengah berhenti, melintasi hujan dengan payungnya. Berlari menyeberang jalan ke arah sebuah lapangan.
Ia berdiri dan mengatur nafasnya. Titik yang berlari itu, kini sedang berlari di hadapannya. Semakin dekat dengannya. Ia berlari ke satu tempat dan berhenti dengan mantap. Kini, dengan payung yang ia sandarkan ke bahu kanannya, ia berdiri menatap ke titik tersebut. Titik yang kini berada satu baris sejajar dengannya.Titik yang masih berlari dengan kecepatan sama, ke arahnya… Dan kini berhenti.
Dekat. Ia sudah dekat dengan titik itu sekarang. Berhenti. Titik yang selama ini ia perhatikan terus bergerak dan berlari, kini berhenti. Dihadapannya.
Gadis itu menahan nafas. Herannya, hanya karena hal seperti ini, jantungnya berdegup sangat kencang. Ia merasa berdebar. Sekarang titik dihadapannya telah menjadi sebuah sosok. Sebuah sosok dengan jaket abu-abu yang basah kuyup dan sepatu kets berwarana putih. Punggungnya turun naik karena kehabisan nafas. Perlahan-lahan, sosok itu mulai bergerak lagi. Ia mendongak. Dan mereka bertatapan.
Gadis itu terkesiap. Ia merasakan jantungnya semakin berdebar.
“Siapa kau?” Suara yang berat dan hangat itu memecah kesunyian di antara rintik hujan yang ramai. Seperti yang dari dulu ingin ia lakukan, gadis itu mengulurkan tangannya yang memegang payung. Ia maju satu langkah, yang membuat keduanya makin dekat. Dan kini mereka bahkan berada di dalam satu payung yang sama.
“Disini dingin. Dan hujan sangat deras. Kau bisa sakit. Bisakah kau berhenti  berlari? Untuk hari ini saja,” pinta gadis itu. Entah apa yang membuatnya berani berbicara. Yang jelas ia merasa lega. Ia merasa senang. Tetapi sesuatu di wajah lelaki itu berubah drastis. Air mukanya. Matanya. Hawa diantara keduanya. Hawa dingin dan canggung yang kini menjadi lebih dekat dan… justru aneh. Lelaki itu terkejut.
“Kau kenapa?” Tanya gadis itu gugup. Merasa bersalah. “Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?”
“Tidak. Tidak.” Lelaki itu menggeleng. Ia menatap ke arah payung.
“Ini..”
Gadis itu tak meneruskan perkataanya.
“Eh.. Bisakah kita berteduh?” Tanya gadis itu. Gugup.
Lelaki itu terdiam beberapa saat. Menatap gadis itu. Atau entah, menatap apa. Yang jelas ia sedang menatap sesuatu. Memikirkan sesuatu. Ia mengangguk.
                                                                           ~


0 komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman